Sepenggal Kisah Detik – Detik Proklamasi

pembacaan proklamasi oleh soekarno hatta

Sepenggal cerita ini akan mengisahkan beberapa kejadian yang mungkin terlupakan atau belum banyak diketahui oleh bangsa Indonesia sendiri tentang saat – saat sebelum dan awal sesudah dua putra terbaik bangsa, Soekarno – Hatta membacakan naskah Proklamasi.

Naskah Proklamasi yang merupakan literatur paling penting dalam sejarah bangsa Indonesia dibuat pada gelap – gelap dinihari yakni sekitar pukul 02.00 – 03.00 di rumah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Jepang berpangkat Laksamana Muda bernama Tadashi Maeda. Rumah yang kini beralamat di Jl Dipenogoro 1 itu sekarang dijadikan Museum Perumusan Naskah Prolkamasi.

rumah laksamana maeda

Rumusan pertama dari naskah yang sangat menggemparkan tersebut di diktekan oleh Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo, konon Soekarno sendiri yang menulisnya dengan tangan pada selembar kertas. Setelah ditulis, naskah tersebut kemudian dibawa pada sidang sederhana di tempat itu juga dengan dihadiri anggota PPKI dan sejumlah perwakilan pemuda.konsep proklamasi tulisa tangan soekarno

Setelah di rasa fix, konsep atau klad itu kemudian di rewrite oleh Sayuti Melik menggunakan mesin tik milik Maeda, hasil ketikan inilah yang di kemudian hari dikenal sebagai “Naskah Proklamasi Otentik”.

naskah proklamasi otentik

Sedangkan nasib konsep aslinya hampir saja berakhir tragis karena langsung dibuang ke tempat sampah begitu Sayuti Melik selesai mengetik salinannya, beruntung konsep berharga tersebut diselamatkan oleh BM Diah yang kemudian menyerahkannya kepada Presiden Soeharto pada tanggal 29 Mei 1992 setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan dan 19 hari.

Sebenarnya hampir saja Indonesia mempunyai lebih dari dua orang Bapak Proklamasi bila saja usul Hatta agar semua yang hadir pada masa krusial penyusunan naskah proklamasi itu ikut menandatangai teks tersebut tidak ditolak oleh Sukarni.

Sukarni adalah seorang tokoh pemuda yang sangat disegani di era revolusi dan merupakan bagian dari kelompok yang dikenal sebagai “Tiga Serangkai Menteng 31”  bersama dengan Sutan Sahrir dan Chairul Shaleh.

Alasan Sukarni menolak usul Bung Hatta karena berpendapat sebagian yang hadir pada rapat kala itu memiliki afiliasi dengan pihak Jepang, untuk menghindari kesan bila Kemerdekaan yang direbut dengan susah payah itu merupakan “hadiah” dari Nippon, maka Sukarni meminta cukup Bung Karno dan Bung Hatta saja yang membubuhkan tanda tangan.

Meskipun sedikit Masygul namun Bung Hatta akhirnya menerima alasan penolakan tersebut, “ya sudah, diajak buat sejarah koq menolak” begitu kira – kira bug Hatta bersungut – sungut.

Alkisah rapat pun selesai begitu Soekarno – Hatta menandatangani naskah proklamasi, semua yang hadir, termasuk dua orang calon proklamator, pun akhirnya pulang dengan perasaan berdebar menunggu peristiwa besar yang akan segera terjadi sebentar lagi.

Pagi harinya berkumpulah tokoh – tokoh nasional dan sebagian masyarakat yang telah mendengar desas desus akan dibacakannya proklamasi di sebuah rumah yang terletak di Jl. Pegangsaan Timur no 56 yang tak lain merupakan kediaman Soekarno. Para patriot yang sebagian besar sedang berpuasa (17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 Hijriah) itu was was dan siaga penuh atas kemungkinan pihak Jepang akan mengacau peristiwa yang telah dinanti – nantikan oleh bangsa ini selama 350 tahun.

Bukan hanya berkumpul, segala macam persiapan dan protokol sangat sederhana pun telah dipersiapkan mulai dari mikropon yang akan digunakan untuk pembacaan proklamasi dan sambutan – sambutan hingga penancapan tiang bambu yag sedianya akan digunakan untuk pengibaran Bendera Merah Putih setelah proklamasi, benderanya sendiri telah dijahit beberapa hari sebelumnya oleh ibu Fatmawati dengan menggunakan kain putih dari seprai tempat tidur dan kain merah yang berasal dari kain milik penjual soto.

Bung karno sendiri yang sedang demam tinggi akibat malaria tertiana sempat tidur setelah begadang semalam suntuk menyusun naskah proklamasi bangun sebentar pagi  – pagi dan mengeluh badannya “pating greges” pada dokter pribadinya.

Sang dokter yang bernama Soeharto (bukan Soeharto mantan presiden-red) kemudian menyuntikan serum chinineurethan intramusculair serta memberi pil brom chinine yang langsung ditenggak oleh Bung Karno, dari sini bisa disimpulkan bila Presiden pertama RI itu sedang tidak puasa.

Usai minum obat Bung Karno tidur kembali dan baru bangun pukul 9 pagi, beliau langsung bersiap, dandan seadanya lalu dengan mengenakan setelan putih – putih khasnya keluar kamar menemui sahabatnya, Hatta, yang entah kebetulan atau memang sudah janjian sebelumnya mengenakan pakaian yang hampir senada.

kiri - kanan : daindacho latief, dr soeharto, bung hatta, bung karno

Bung Hatta yang dikenal selalu tepat waktu entah mengapa di hari sakral itu hampir saja kehilangan reputasinya, beliau datang hanya beberapa menit sebelum pukul 10 pagi. Sejumlah pemuda yang sudah tidak sabar ingin segera merdeka mendesak Moewardi untuk mendesak bung Karno segera membacakan naskah proklamasi.

Moewardi pun sempat bersitegang dengan bung Karno yang tegas – tegas menyatakan akan tetap menunggu bung Hatta datang untuk bersama – sama membacakan proklamasi. Moewardi yang juga ikutan tak sabar beralasan bila naskah toh sudah ditanda tangani oleh Soekarno – Hatta dan tinggal dibacakan saja.

Soekarno menjawab, bila anda bersikeras, silahkan anda baca proklamasi sendiri, kalimat tersebut mengakhiri perdebatan di pagi yang tegang itu, untunglah tak lama kemudian bung Hatta pun tiba di lokasi, seperti yang telah disebutkan tadi, dengan setelan putih – putih.

Bersama, duet Dwi Tunggal itu berjalan keluar ke teras rumah dengan naskah proklamasi di tangan siap membawa bangsa tercintanya menuju era baru yang bebas berdaulat. Diluar, Latief Hendraningrat, seorang Daidancho PETA telah siap menjalankan protokoler ala kadarnya dan menyiapkan mikrofon, yang konon curian dari radio Jepang, bagi bung Karno dan Bung Hatta.

Prosesi proklamasi yang telah dinantikan selama berabad – abad itu sendiri berlangsung cukup singkat, mulai dari pembukaan hingga pidato tanpa teks bung Karno setelah membacakan proklamasi hanya berdurasi sekitar 3 menit.

bendera proklamasi tiang bambu

“Demikianlah saudara – saudara, kini kita telah Merdeka” setelah membacakan doa, dua orang proklamator ini pun turun ke halaman untuk mengikuti upacara pengibaran bendera yang pertama kalinya setelah Indonesia merdeka, lagu Indonesia Raya ciptaan WR Supratman pun menjadi lagu yang pertama dinyanyikan di alam kemerdekaan.

pidato sowirjo di pegangsaan

Upacara kemudian dilanjutkan dengan pidato dari Soewirjo, wakil walikota Djakarta tahun 45 dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor. Setelah prosesi selesai dilaksanakan para tokoh dan masyarakat yang hadir tak langsung pulang namun duduk – duduk santai di serambi dan halaman rumah sementara sang empunya rumah masuk kembali ke kamarnya untuk bersiap tidur.

Itulah semua proses proklamasi kemerdekaan dari bangsa yang berabad – abad hidup dibawah kungkungan penjajahan. Tak ada karpet merah, tanpa suara terompet apalagi drumband, tak ada jamuan kenegaraan semuanya berlangsung begitu sederhana namun begitu khidmad, semua yang hadir tahu, hari itu, detik itu, revolusi telah dimulai dan mereka kini adalah rakyat dari sebuah negara yang berdaulat bukan lagi bangsa terjajah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s