Fakta Unik Seputar Proklamasi 17 Agustus

bung hatta dan bu rahmiBila Soekarno sedang “pating greges” karena malaria di saat proklamasi, Bung Hatta justru sedang mengalami kasmaran akut dengan kesayangannya, seorang wanita cantik, cerdas dan lembut bernama Rahmi, yang dikenalkan oleh sahabat sejatinya, Soekarno.

Bung Karno yang setelah membaca proklamasi sedang bersiap untuk tidur dikejutkan oleh kehadiran ratusan pemuda dari Barisan Pelopor yang datang terlambat. Para pemuda dibawah komando Ceo S Brata itu meminta Bung Karno untuk mengulang membacakan proklamasi kembali, namun Soekarno menyatakan proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama – lamanya.

Agar dimengerti bila keterlambatan ini berbeda dengan kebiasaan “jam karet” masyarakat saat ini namun dikarenakan situasi pada masa itu yang sedang kacau balau akibat pengawasan berlebihan dari tentara Jepang yang bertugas mengamankan status quo hingga serdadu sekutu tiba, sarana transportasi yang hampir tidak ada dan banyak alasan lainnya.

Meski kecewa namun para pemuda patriot itu bisa menerima dan memutuskan untuk berjaga – jaga di kediaman sang proklamator. Benar saja, tak lama setelah bung Hatta pamit, datanglah beberapa utusan Jepang, pemuda yang sudah bisa menebak maksud dan tujuan mereka langsung menempatkan 3 pembesar Nippon ini menunggu di ruang belakang, tanpa kursi.

Salah seorang pemuda, Soediro pun menyampaikan kedatangan utusan Jepang itu pada bung Karno, sang bung yang sudah stand by di tempat tidur dengan piyamanya terpaksa berganti baju lagi untuk menemui “tamu tak diundang tersebut”,

Dan seperti inilah kira – kira percakapan singkatnya :

Utusan Jepang : Kami diutus oleh Gunseikan (semacam pimpinan militer) untuk melarang Soekarno mengucapkan proklamasi
Soekarno : Proklamasi sudah saya ucapkan
Utusan jepang : Sudahkah?
Soekarno : Sudah

Mendengar jawaban itu dan melihat ratusan pemuda telah siap dengan senjatanya masing – masing, para utusan yang menyadari keterlambatannya dan masih sayang akan nyawa mereka merasa tak ada lagi gunanya mereka berlama – lama dan langsung angkat kaki.

Proklamasi awalnya direncanakan di Lapangan Ikada (sekarang Monas) namun batal karena alasan keamanan sebab di tempat tersebut banyak di jaga oleh serdadu Dai Nippon.

Di rumah bung Karno sebenarnya terdapat sebuah tiang bendera lengkap yang terbuat dari besi, namun saking tegangnya, Soehoed, yang ditugaskan sebagai protokoler tidak resmi bagian perlengkapan justru lupa dan malah menancapkan bambu jemuran untuk dijadikan tiang bendera.

upacara proklamasi tiang bambu

Pengibaran bendera sendiri awalnya ditunjuk SK Trimurti, namun berhubung yang bersangkutan menolak dan berpendapat pengibaran bendera di saat sakral ini sebaiknya dilakukan oleh militer, maka jadilah Latief Hendradiningrat yang dengan inisiatif sendiri mengambil peran tersebut dibantu oleh Soehoed dan seorang pemudi yang bertugas membawa baki tempat bendera Merah Putih diletakan.

Kalian pasti pernah mendengar suara bung Karno saat membacakan proklamasi, sayangnya itu bukanlah suara asli pada saat Bapak Proklamator itu menyatakan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 namun rekaman yang diambil untuk kebutuhan dokumentasi di tahun 1951 oleh Radio Republik Indonesia.

Tanggal 17 Agustus rupa – rupanya memang memiliki arti keramat bagi bangsa Indonesia, selain hari Proklamasi, 17 Agustus menjadi hari wafatnya beberapa tokoh pilar bangsa, WR Supratman sang pencipta lagu Indonesia Raya berpulang pada tanggal 17 agustus 1938 sebelumnya pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk wafat pada 17 Agustus 1894, keduanya dipanggil Illahi sebelum sempat menyaksikan bangsa Indonesia Merdeka.

Begitu sederhananya prosesi proklamasi, hingga hanya ada belasan foto saja yang menjadi saksi dokumenter dari peristiwa sekali sepanjang masa tersebut. Diantara belasan foto tersebut yang paling banyak diketahui umum adalah 3 foto hasil jepretan Mendur bersaudara, Frans dan Alex.

Meski melalui masa pasang surut hubungan, namun persahabatan antara kedua founding father ini sangatlah teruji. Ada saat dimana hubungan keduanya menjadi renggang dan dimanfaatkan oleh pihak – pihak tertentu, terutama PKI kala itu dimana Aidit dan kroninya melempar wacana untuk hanya menyebut Soekarno saja dalam naskah Proklamasi.

Bukannya senang, Soekarno justru melemparkan amarah yang luar biasa, dengan geramnya beliau berteriak, Orang boleh benci dengan seseorang! orang boleh dendam dengan seseorang! boleeeh entah apalagi! Aku pun kadang saling gebuk dengan Hatta…. tapi menghilangkan Hatta dari teks Proklamasi adalah tindakan pengecut…!!!!

Dilain saat waktu Bung Hatta berkunjung ke Amerika yang ketika itu jelas – jelas tidak menyukai Bung Karno, Hatta dengan tegas menyatakan “Baik buruknya Soekarno, beliau adalah Presiden saya”.

Sebagai penutup, meski memiliki jasa yang luar biasa besarnya pada Republik ini, namun gelar resmi sebagai proklamator baru di dapat 41 tahun setelah proklamasi yakni melalui Keppres 81/TK/tahun 1985 yang menyatakan Soekarno – Hatta sebagai Dwi Tunggal proklamator. Sedangkan gelar terpisah sebagai Pahlawan Nasional untuk Soekarno dan Hatta baru resmi disandang oleh kedua pendiri bangsa ini di tahun 2012 melalui momentum Hari Pahlawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s