Mengenang Detik – detik Peristiwa Tiananmen

tiananmen square 1989

4 Juni 1989, ribuan pemuda dan masyarakat yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa berkumpul di lapangan Tiananmen atau lebih dikenal dengan sebutan Tiananmen Square di pusat kota Beijing, China.

Aksi yang awalnya disebut sebagai ‘89 Democracy Movement itu akhirnya lebih dikenal sebagai Tiananment Square Massacre atau June 4th Massacre ketika protes damai yang dilakukan mahasiswa bersama rakyat ditanggapi dengan tembakan peluru tajam membabi buta serta serbuan tank yang dilakukan militer pemerintahan komunis RRC.

Demonstrasi yang dilakukan pada 3-4 Juni 89 itu sendiri merupakan puncak dari serangkaian aksi sejak bulan April 1989 yang dipicu meninggalnya Hu Yaobang seorang reformis liberal yang juga mantan Sekjen partai komunis China yang digulingkan secara paksa pada bulan Januari karena aktif dan kritis menyerang kebijakan pemerintah, pembatasan kebebasan berbicara serta perilaku korup dan nepotis dari pejabat pemerintahan.

Protes dan demonstrasi terus dilakukan bukan hanya di Beijing namun juga serentak hampir di seluruh penjuru Cina termasuk melakukan mogok makan massal nasional. Pada pertengahan Mei atau sekitar tanggal 17 – 18 Mei 1989, sekitar 1 juta warga Beijing berbaris dan berparade menuju lapangan Tiananmen, beberapa tokoh dari partai oposisi, kepolisian dan kaum cendikiawan ikut bergabung dalam aksi solidaritas tersebut.

Pada 20 Mei 1989, pemerintah mengeluarkan maklumat keadaan darurat (semacam dekrit) dan mengerahkan sedikitnya 30 batalion militer, total 250 ribu tentara dikerahkan ke ibukota negara melalui jalur darat serta udara untuk “mengatasi” aksi yang oleh pemerintah dianggap sebagai tindakan kontra revolusioner itu.

Namun demikian pasukan militer sempat tertahan di luar kota Beijing karena dihadang oleh puluhan ribu pengunjuk rasa dan warga ibukota, para demonstran mengepung tank serta kendaraan lapis baja yang digunakan untuk mengangkut pasukan dengan cara simpatik, menghimbau tentara untuk bergabung dalam aksi damai ini bahkan menyediakan makanan dan minuman untuk mereka.

Melihat situasi yang tidak memungkinkan untuk merangsek maju, pada 24 Mei pihak otoritas militer dan pemerintah memutuskan untuk menarik mundur pasukan kembali ke base mereka di luar kota Beijing. Tentunya hal ini di sambut gembira oleh rakyat serta para demonstran yang mengira telah mencapai titik balik dari perjuangan mereka.

Tanggal 1 Juni Perdana Menteri RRC, Li Peng mengeluarkan laporan yang di beri judul “Kebenaran Sejati dari Sebuah Gejolak” pada politbiro yang intinya membujuk politbiro untuk melegalisasi tindakan “pembersihan” terhadap aksi di Tiananmen Square karena protes rakyat sudah menjurus pada tindakan terorisme serta kontra revolusioner dan bahwa disinyalir bila Amerika berada dibelakang aksi tersebut untuk menjatuhkan pemerintahan komunis Cina.

Di pihak pengunjuk rasa sendiri kelelahan sudah mulai melanda, tekanan terus menerus disertai tindakan represif dari pihak tentara, perselisihan internal antara demonstran moderat serta mereka yang menganut garis keras turut menambah panas suasana, belum lagi propaganda yang dilakukan oleh pemerintah melalui media dan orang – orang mereka yang di susupkan di tengah pengunjuk rasa.

Tiga orang cendekiawan terkemuka Cina yakni Liu Xiaobo, Zhou Duo, Gao Xin serta penyanyi asal Taiwan, Hou Dejian menyerukan aksi mogok makan kedua untuk menghidupkan kembali semangat pro demokrasi dan menegaskan bahwa perjuangan ini layak untuk diteruskan.

Keesokan harinya (2 Juni 89) Deng Xioping dan beberapa tetua partai bertemu Li Peng, Qiao Shi dan Yao Yilin dari politbiro dan menyepakati upaya membersihkan lapangan Tiananmen dengan cara yang “sedamai” mungkin, namun apabila kaum pemrotes melawan maka pasukan diberi otorisasi untuk melakukan tindakan apapun yang diperlukan.

3 Juni 1989 pukul 4.30 dini hari, ketiga anggota politbiro itu kemudian melakukan pertemuan tertutup dengan Walikota Beijing, Chen Xitong, Sekretaris partai di Beijing, Li Ximing, sekretariat dewan negara Luo Gan serta pimpinan militer, pertemuan pada pagi – pagi buta itu menghasilkan perinyah terakhir untuk menegakan hukum darurat yang isinya antara lain :

  • Operasi penumpasan kerusuhan kontra revolusioner akan dimulai pukul 9 pm waktu Beijing
  • Unit militer mengepung lapangan Tiananmen pukul 1 am pada 4 Juni dan lapangan sudah harus dibersihkan pada pukul 6 am.
  • Penundaan tak akan ditoleransi
  • Tak ada seorangpun yang boleh menghalangi pasukan untuk menegakan hukum darurat, pasukan diberi otorisasi untuk membela diri dan melakukan tindakan apapun untuk membersihkan segala tindakan perlawanan atau tindakan yang menghambat mereka dalam melakukan tugas.
  • Media akan menyiarkan peringatan terhadap warga

Dalam maklumat tersebut memang tidak secara eksplisit menyebutkan direktori “menembak untuk membunuh” namun perintah melakukan “segala cara” oleh sebagian besar pasukan di definisikan sebagai otorisasi untuk menggunakan senjata mematikan. Para pimpinan sendiri memantau operasi ini dari gedung Great Hall of The People dan markas besar partai komunis di Zhongnanhai.

Sore harinya media pemerintah mulai menyiarkan larangan bagi rakyat untuk meninggalkan rumah mereka, akan tetapi sebagian besar rakyat tidak mematuhi larangan tersebut dan rakyat tetap turun ke jalan seperti yang telah mereka lakukan dalam 2 minggu terakhir.

The Tiananmen Massacre Di Mulai

4 Juni 1989, People Liberation Army atau Tentara Pembebasan Rakyat mulai bergerak merangsek ke kota Beijing dari segala arah, unit 38, 63 dan 28 rai Angkatan Darat masuk dari arah barat, unit 20, 26 dan 64 AD bersama 15th Airborne Corps dari Angkatan Udara masuk dari selatan. Di saat bersamaan Divisi pertama lapis baja PLA masuk dari timur bersama dengan unit 39 AD sedangkan unit 40 dan 64 AD masuk dari sisi selatan Tiananmen Square.

Pukul 10 pagi, unit 38 memulai tembakan pertama ke arah para demonstran di persimpangan Wukesong jalan raya Chang’an yaitu kurag lebih 10 km sebelah barat lapangan Tiananmen, pengunjuk rasa terkejut karena tentara menggunakan peluru tajam, Song Xiaoming (32 tahun) seorang teknisi penerbangan merupakan korban tewas pertama yang terkonfirmasi pada peristiwa ini.

10.30 laju unit 38 AD sempat tertahan di Muxidi, sekitar 5km sebelah barat Tiananmen karena demonstran membakar bis yang diparkir melintang di jembatan, beberapa warga mencoba mengepung tentara untuk menghalangi gerak lajunya, namun tak sepertis ebelumnya, kali ini tentara tidak lagi mundur akan tetapi mulai menembaki kerumunan hingga menewaskan banyak diantara mereka, tentara bahkan menembaki apartemen di sekitar Muxidi, tentara kemudian menggunakan kendaraan lapis baja untuk melindas bus yang menghalangi jalan.

tiananmen chang'an avenue

Tentara terus menembaki demonstran yang mencoba mendirikan barikade serta rantai manusia, mayat pun bergelimpangan di sepanjang jalan antara kawasan Chang’an, Liubukou, Fuxingmen, Nanlishilu, Xidan hingga Tiananmen.

Pasukan terjun payung dari divisi 15 airborne mulai diterjunkan dari arah selatan dan menembaki kerumunan warga, korban kembali berjatuhan di wilayah Hufangqiao, Zhushikou, Tianqiao, dan Qianmen.

Para pengunjuk rasa sendiri bukan tidak melakukan perlawanan, selain mencoba menghalangi gerak laju pasukan dengan barikade, mahasiswa, pelajar, buruh serta warga sipil juga menyerang tentara menggunakan segala macam benda mulai dari batu, kayu hingga bom molotov, terlebih ketika kabar terjadinya pertumpahan darah di barat dan selatan Tiananmen sampai ke demonstran lainnya yang berkumpul di Tiananmen Square.

demo mahasiswa cina

Pengunjuk rasa bahkan membakar beberapa kendaraan lapis baja yang digunakan oleh tentara dan mencoba menyerang pengemudinya, beruntung mahasiswa sigap mengamankan para tentara tersebut.

Pukul 1.30 am, pasukan pelopor dari unit 38 dan pasukan penerjun dari armada udara PLA  tiba di Tiananmen Square dari arah utara dan selatan, mereka di back up oleh unit 27 dan 65 yang keluar dari arah balai rakyat di barat Tiananmen sementara unit 24 sampai dari arah timur. Mereka langsung mengepung lapangan dan mengisolasi mahasiswa dan pengunjuk rasa lainnya, jam 2 pagi tembakan kembali terdengar dari moncong senapan para tentara tersebut.

Pukul 4 pagi lampu di sekitar Tiananmen Square dimatikan dan suasana menjadi gelap gulita, terdengar pengumuman dari loudspeaker yang dikuasai pemerintah yang menyerukan bila pembersihan Tiananmen Square akan segera dimulai, para mahasiswa yang bersikeras akan melakukan perjuangan terakhir mereka tetap tinggal di lapangan dan menyanyinak lagu “The Internationale” (lihat boks) dan bersiap untuk last stand action.

Jam 4.30 lampu kembali dinyalakan dan terlihat pasukan mulai bergerak maju dari 4 sisi lapangan dan mulai memukuli para demonstran, merebut serta merusak kamera atau alat perekam lain yang dipegang oleh mahasiswa.

Dan itulah akhirnya, pada sekitar pukul 6 am, lapangan telah berhasil “dibersihkan” dari para demonstran, sesuai jadwal dari maklumat pihak otoritas, para demonstran yang tersisa berkonvoi untuk kembali ke kampus mereka di kejar menggunakan 3 buah tank yang menembakan gas air mata, satu diantara tank tersebut bahkan menabrak kerumunan massa hingga menewaskan 11 orang dan puluhan lain yang terluka.

Pasca Bentrokan

Pagi harinya, ribuan warga, sebagian terdiri dari orangtua para mahasiswa, mencoba memasuki kembali Tiananmen Square, namun mereka berhadapan dengan pasukan infanteri yang langsung menembaki kearah kerumunan, hal ini berulang beberapa kali menimbulkan kepanikan dan korban jiwa pun kembali berjatuhan.

Peristiwa Tianmen 1989 atau Tiananment Square Massacre atau June 4th Massacre atau apapun sebutannya adalah aksi solidaritas massa untuk melawan kediktatoran pemerintah, Aksi itu meluas hingga seantero negeri tirai bambu tersebut dimana tak kurang dari 80 kota juga bergejolak dengan aksi protes dan demonstrasi dengan mahasiswa berada di garis paling depan.

tiananmen square student protest

Di sisi lain pemerintah menganggap aksi mereka sebagai aksi kontra revolusioner bahkan menjurus ke arah makar, pemerintah menuding aksi ini tidaklah murni berawal dari masyarakat namun ada pihak – pihak tertentu (baca: Barat) yang menunggangi rangkaian protes serta demonstrasi melawan kepemerintahan yang sah dari RRC.

Pemerintah pun memiliki argumen yang di dukung oleh sejumlah dokumen dan fakta sebagai bukti bahwa pihak barat yang merepresentasikan paham liberalisme ingin menggulingkan pemerintahan serta mengganti paham sosialis yang dianut RRC.

Pada siaran pers 2 hari setelah peristiwa Tiananmen atau tepatnya tanggal 6 juni 1989, Dewan Sekretariat Negara mengeluarkan “statistik awal” korban dari peristiwa ini adalah 300 orang termasuk anggota polisi dan tentara, 23 mahasiswa, apa yang di sebut “anasir jahat” yang mengakibatkan terjadinya pemberontakan ini dimana diantaranya termasuk para kriminal dan massa tidak jelas yang disebut “mengerti situasi sesungguhnya”. Juru bicara militer menyatakan tak ada yang terbunuh di Tiananmen Square dan tak ada satu pun manusia yang tertabrak oleh truk ataupun tank di lapangan bersejarah itu.

Tanggal 9 Juni 1989, Deng Xioping muncul di hadapan publik untuk pertama kalinya semenjak berlangsungnya aksi protes dan menyampaikan pujiannya pada anggota PLA yang tewas pada peristiwa itu yang disebutnya sebagai martir atau pahlawan yang gagah berani mempertahankan ideologi dan pemerintahan yang sah.

Menurut Deng tujuan sebenarnya dari aksi ini adalah membentuk sebuah republik borjuis yang nantinya akan bergantung sepenuhnya pada dunia barat, bahwa isu korupsi yang disuarakan oleh pihak demonstran adalah sebuah pengalihan untuk menutupi motif sebenarnya yaitu mengganti sistem sosialisme.

Lebih jauh lagi Deng berkata bila seluruh imperialisme barat bersatu untuk membuat semua negara sosialis meninggalkan paham sosialisme nya dan menggiring mereka tunduk dibawah monopoli kapitalisme internasional.

Benar atau tidaknya pernyataan tersebut tak ada yang tahu pasti, yang jelas hingga saat ini Republik Rakyat China telah menjadi kekuatan besar baik dalam bidang militer, teknologi dan ekonomi dan sangat disegani atau bila jujur mungkin ditakuti oleh dunia barat, China bahkan bertahan dan bangkit dari embargo senjata dan pengasingan ekonomi yang dilakukan oleh dunia barat.

Korban Tewas Tragedi Tianamen

Pertanyaan yang masih mengganggu mungkin adalah berapakah jumlah korban sebenarnya dari konflik Tiananmen tersebut? Pertanyaan yang masih belum bisa dipastikan jawabannya sampai sekarang, sejumlah pihak memiliki angka dan estimasi perkiraan sendiri – sendiri.

Pihak pemerintah masih bertahan dengan jumlah yang telah dikemukakan diatas

CIA mengklaim setidaknya 400 hingga 700 orang tewas sebagian besar berasal dari pihak demonstran. Darimana dan bagaimana serta apa tujuannya pihak intelijen asing itu mendapatkan data tersebut tak ada yang tau pasti.

Palang Merah China menyebut korban tewas berkisar 2600 orang sedangkan pihak pengunjuk rasa menyebut jumlah korban dari pihak mereka saja sekitar 7 ribu jiwa.

Pembatasan Media

Setelah peristiwa Tiananmen, pihak otoritas RRC semakin memperketat pemberitaan baik dari dalam maupun luar negeri, China bahkan memblok akses dari sejumlah media mainstream papan atas mulai dari CNN, Twitter, Facebook bahkan Google meskipun kemudian untuk yang terakhir China sedikit melunak dengan memberikan akses walau terpantau dan dibatasi, bahkan wordpress pun ikut diblok disana, berarti situs cukup tau aja ini tidak bisa diakses oleh masyarakat di negeri tersebut.

Namun bukan berarti kemudian rakyat di China menjadi terisolasi dari dunia luar seperti negara sosialis – komunis tetangganya yakni Korea Utara, Google yang merupakan search engine nomor satu di dunia ternyata hanya menempati peringkat ketiga di Cina di bawah Baidu dan Soso.

Warga China juga aktif di sosial media, asal tau aja, Renren situs jejaring sosial asli Cina memiliki jumlah pengguna mencapai 147 akun, angka itu pun belum ada apa apanya bila dibandingkan Shina Weibo yang juga sosmed asli Cina dengan jumlah pengguna sekitar 22 persen dari seluruh jumlah pengguna internet di China, asal tau aja ya, jumlah internet user di Cina tak kurang dari 43 persen dari total penduduk negara tersebut atau sekitar 650 juta jiwa, angka itu lebih dari 2 kali lipat total penduduk Amerika Serikat, bila 22 persennya menggunakan Weibo hitung saja sendiri, yang jelas jumlahnya pasti banyak sekali.

Dan di era digital marketing seperti saat ini, China juga tak ketinggalan, mereka punya Taobao, situs belanja internet yang dimiliki oleh jutawan eksentrik Jack Ma itu mampu mengalahkan e Bay dan Amazon di Cina dan menjadi situs e commerce nomor 3 terbesar di dunia, hebat kan.

the tank man foto tianamen square

Cukup Tau Aja

Mungkin salah satu dokumentasi paling populer dan ikonik dari peristiwa Tiananmen adalah “The Tank Man” yaitu gambar serta video yang menangkap seorang demonstran berdiri menghadang konvoi tank, saat tank mencoba melewati demonstran tersebut ia berpindah posisi untuk terus menghalangi jalannya.

Lagu “The Internationale” yang dinyanyikan demonstran di Tiananmen Square adalah anthem perjuangan sayap kiri seperti kaum sosialis, anarchist dan komunis, lagu ini telah menjadi standar dari pergerakan sosialis dari seluruh dunia sejak awal abad 19, lagu ini juga dinyanyikan oleh kaum Republik pada saat Perang Sipil di Spanyol.

Tiananmen Square juga berdampak pada budaya kultur pop di dunia barat, tak kurang dari band progresif R.E.M mengangkat tragedi ini dalam lagu berjudul “Shiny Happy People” yang diduga berisi terjemahan bebas dari propaganda pemerintah Cina soal pembantaian di Tiananmen.

System of a Down justru mengangkat sisi lain dari tragedi melalui lagunya yang berjudul Hypnotize yang mempertanyakan motif dari pergerakan tersebut, SOD menyebut bila sebagian besar kaum muda yang terlibat justru tidak mengetahui maksud dari aksi protes ini namun hanya sekedar ikut trend pada saat itu saja.

Bila saja The Rolling Stones membuat lagu Sympathy for The Devil di era setelah peristiwa Tiananmen mungkin saja mereka juga akan memasukannya dalam lirik lagu tersebut bersama dengan peristiwa penting dunia lainnya.

Serial Televisi populer juga ikut menyebut atau mengambil inspirasi dari peristiwa Tiananmen, Star Trek menamai salah satu kapalnya dengan USS Tian An Men, sedangkan MacGyver dalam episode berjudul “Children of The Light” mengambil latar belakang dari Tiananmen.

Memang ironi bila peristiwa berdarah ini terjadi di Tiananmen Square, sekedar tau, Tiananmen Square adalah sebuah lapangan atau alun – alun besar di sebelah selatan gerbang selatan istana Dinasti Ming atau dikenal sebagai Istana Terlarang. Nama aslinya adalah “Tian An Men Guang Chang” yang artinya “lapangan luas di pintu surga yang damai”.

Jangan Bilang Siapa – siapa

Disclaimer : Tak ada yang menginginkan pertumpahan darah terlebih diantara saudara sendiri, namun kami ingin pembaca budiman melihatnya dari dua sisi berbeda, tak ada maksud menghakimi, menyudutkan atau mengklaim tulisan ini paling benar, yang penting pembaca cukup tau aja, bila tergelitik ingin menanggapi, berdiskusi dan lainnya, silahkan berkomentar di kolom di bawah.

One Comment Add yours

  1. Jimdo berkata:

    saya suka cara anda mengulas peristiwa ini, memang tindakan represif pemerintah cina sangat dsayangkan, tp latar belakang peristwa ini jg hrs diperjelas jg, kalau ga ada cmpr tngan asing apakah mngkin prstiwa ini trjadi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s