Geronimo : The Last American Warrior

geronimo-quote

Kata – kata diatas merupakan kutipan dari seorang perwira dari tentara federal Amerika yang ditugaskan sebagai negosiator antara pemerintah federal dengan suku Apache Indian yang dipimpin oleh seorang pejuang kharismatik dan pemberani bernama Geronimo.

Geronimo adalah legenda dan pahlawan sekaligus simbol paling ikonik dari suku Apache, salah satu suku terbesar dari Indian Amerika yang melawan penindasan serta pengambil alihan tanah milik suku Apache secara paksa oleh para pendatang Eropa pada awal berdirinya negara Amerika Serikat.

geronimo pemimpin perang apache chiricahua

Geronimo atau dikenal juga sebagai Goyaałé atau Goyathlay yang memiliki arti “orang yang menguap” dalam bahasa Mescalero – Chiricahua Apache lahir pada hari ini, 16 Juni 187 tahun lalu tepatnya pada tahun 1829 di wilayah No-doyohn Canon Canon, Arizone. Kakeknya yang bernama Mahko adalah seorang pemimpin Apache dari suku Bedonkohe.

Pada awal 1800 kekuasaan suku Apache sangatlah luas dan menjadi salah satu dari suku Indian terbesar dan paling berpengaruh di benua Amerika selain Sioux, Cherokee, Iroquois dan Navajo, daerah kekuasaan Apache terbentang mulai dari barat daya Meksiko hingga Arizona bagian tenggara. Suku Apache dikenal sebagai suku para pejuang, memilki strategi perang yang hebatserta sangat mahir dalam berkuda.

Latar Belakang Geronimo

Geronimo kecil dibesarkan dengan nilai – nilai leluhur suku Apache dan Indian pada umumnya yang sangat menghormati dan mencintai tanah kelahiran mereka, Indian menganggap bumi sebagai ibu yang memberi kehidupan bagi mereka, mirip seperti ibu pertiwi bagi bangsa Indonesia, oleh karena itu sama seperti masyarakat Indian lainnya, Geronimo sangat murka ketika para pendatang Eropa yang berkulit putih seenaknya memasuki wilayah suci dan tidak menghormati tanah kelahiran suku Indian.

Kemarahan Geronimo juga ditujukan pada orang Meksiko karena dendam pribadi dan sukunya, pada tanggal 5 Maret 1951, 400 tentara Meksiko yang dipimpin oleh José María Carrasco menyerang perkemahan suku Apache di luar kota  Janos saat semua kaum lelaki sedang keluar untuk berdagang, dan membantai hampir seluruh penghuni kampung yang sebagian besar merupakan wanita, anak – anak serta orang lanjut usia, diantara korban dari pembantaian oleh tentara  Mexico tersebut adalah ibu, istri dan 3 orang anak dari Geronimo.

Geronimo kemudian melakukan serangkaian kampanye teror dan perlawanan baik terhadap tentara Meksiko maupun pendatang kulit putih dari Eropa yang disebutnya sebagai Westman / orang barat, Geronimo bahkan angkat senjata melawan pemerintah Amerika Serikat dengan tentara konfederasinya karena menolak tegas pengakuan pemerintah Amerika atas tanah leluhur kaum Apache Indian yang telah didiami selama ribuan tahun.

Di pihak Meksiko, Gubernur Sonora pernah menyatakan Geronimo bersama 16 orang pasukannya telah membantai sedikitnya 700 prajuritnya Geronimo sendiri menanggapi pernyataan tersebut melalui otobiografinya yang diterbitkan tahun 1905 “aku tak pernah menghitung berapa banyak yang telah kubunuh, sebagian dari mereka bahkan tak pantas masuk dalam hitungan, namun aku memang tak pernah merasa simpati atau kasihat terhadap orang Meksiko”.

pasukan geronimo apache indian

Ditengah pertempurannya dengan pasukan Meksiko, juga tengah meletus perang antara Meksiko dan Amerika yang kemudian dimenangkan oleh Amerika ada tahun 1848. Kemenangan tersebut membuat okupasi pendatang kulit putih semakin merajalela terutama setelah ditemukannya emas di bumi Arizona, wilayah yang menjadi tanah kelahiran sekaligus penghidupan suku Apache.

Sikap seenaknya dan perusakan terhadap “ibu pertiwi” membuat Geronimo dan kaum Apache juga melakukan perlawanan terhadap pasukan konfederasi Amerika Serikat, begitu hebatnya perlawanan tersebut hingga konon Amerika mengerahkan lebih dari 5000 pasukan khusus untuk memburu Geronimo belum termasuk para pencari jejak dan mata – mata yang sebagian justru berasal dari kaum Indian juga.

Penahanan Dan Pelarian

Perjuangan Geronimo dan suku Apache melawan penindasan kulit putih mengalami pasang surut, ia beberapa kali ditangkap dan ditawan dan beberapa kali pula berhasil meloloskan diri. Bahkan tak jarang Geronimo berhasil selamat ketika dikepung oleh pasukan Amerika dimana secara logika tak ada kemungkinan untuk lolos namun ia berhasil menyelamatkan diri, hal itu menciptakan mitos bahwa Geronimo memang tidak bisa dibunuh, setidaknya tidak dengan peluru biasa.

Perdamaian antara suku Apache dengan pemerintah Amerika sempat terjadi pada tahun 1872 ketika pemimpin suku Chiricahua bernama Cochise mengadakan kesepakatan damai, walau keputusan ini mengecewakan Geronimo dan para pejuang Apache lainnya namun Cochise adalah pemimpin yang sangat dihormati hingga akhirnya seluruh suku Apache bersedia tunduk pada kesepakatan berat sebelah tersebut dan bersedia dipindahkan ke lokasi penampungan di barat daya Arizona.

Namun kesepakatan itu tak berlangsung lama, tak lama setelah kematian Cochise pada tahun 1874, pemerintah Amerika melanggar kesepakat tersebut dan secara sepihak merelokasi suku Apache ke bagian utara Arizona hanya demi agar para pemukim kulit putih lebih leluasa dalam melakukan ekspansi terhadap tanah lelulur Apache di barat daya Arizona.

Penistaan terhadap perjanjian yang telah disepkati itu kembali mengorbankan semangat perlawanan dari suku Apache, mereka kemudian mendaulat Geronimo sebagai pemimpin perang terhadap kesewenang – wenangan pemerintah Amerika yang kala itu saja sudah merasa sebagai negara super power. Strategi sabotase dan teror kembali dilancarkan dan kelompok kecil yang dipimpin Geronimo dan kembali menyebarkan ketakutan luar biasa di tengah para pemukim kulit putih.

Pemerintah Amerika yang kehabisan akal untuk menangkap Geronimo akhirnya menggunakan segala cara termasuk cara yang paling licik seperti menangkapi dan membunuhi orang Indian yang tidak terlibat perlawanan, penekanan terhadap keluarga kaum pemberontak, perundingan palsu yang diikuti penjebakan dan cara picik lainnya.

Cara – cara pengecut itu membuat dukungan kepada kelompok Geronimo semakin berkurang hingga akhirnya membuat kelompok Geronimo semakin sedikit saja jumlahnya dan kian terdesak hingga akhirnya akhirnya pada 4 September 1886 Geronimo mengakhiri perlawanan fisik dan menyerah kepada kepala pasukan pemerintah Amerika, Jenderal Nelson Miles, berakhirlah perburuan terhadap pria yang paling ditakuti sepanjang era wild wild west.

Kematian Geronimo

Pasca berakhirnya perang Indian, suku Apache direlokasi ke beberapa wilayah mulai dari Florida, Alabama, Comanche dan Kiowa dengan pengawasan super ketat dari tentara Federal, banyak diantara mereka yang jatuh sakit kemudian meninggal akibat perlakuan tidak manusiawi dan cuaca buruk termasuk diantaranya wanita, orang tua dan anak kecil.

Geronimo menjalani dua dekade hidupnya sebagai tawanan perang, permohonannya untuk pulang walau sejenak ke tanah kelahirannya di Arizona tak pernah dikabulkan oleh pemerintah Amerika termasuk oleh presiden Theodore Roosevelt dimana ia menghadiri pelantikannya

Pada sebuah malam yang dingin di bulan Februari 1909 saat sedang menunggangi kudanya di tanah reservasi, Geronimo terjatuh dan sejak saat itu kesehatannya memburuk, pejuang pemberani itu akhirnya menyerah pada takdir dan menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 17 Februari 1909 dalam usia 80 tahun. Penyebab kematian resminya adalah akibat pneumonia, Geronimo dimakamkan di Fort Hill, di pemakamam para tahanan suku Apache di Oklahoma.

Pada saat – saat terakhirnya, Geronimo sempat berkata pada seorang keponakannya bernama Kanseah “seharusnya aku tak pernah menyerah, seharusnya aku terus berjuang hingga aku merupakan orang terakhir yang hidup”, sebuah penyesalan dan elegi atas nasib sukunya yang masih belum mendapatkan keadilan yang selayaknya sebagai pemilik sah bumi Arizona.

Cukup tau aja

Sepanjang hidupnya Geronimo menikah dengan 9 wanita, istri yang pertama bernama Alope yang dinikahinya saat berusia 17 tahun. Kemudian Geronimo menikah lagi dengan Ta-ayz-slat, Chee Hash Kish, Nana-Tha-Thtith, She-gha, Zi-yeh yang merupakan separuh Indian dan separuh kulit putih, Shtsha-she, h-tedda atau dikenal juga dengan nama Kate Cross Eyes dan yang terakhir adalah Azul.

istri kedua geronimo dan anaknya

Ta-ayz-slath, istri kedua Geronimo dan anaknya

Dari ketujuh istrinya itu, cinta paling mendalam Geronimo mungkin kepada istri pertamanya Alopa yang dibantai oleh pasukan Meksiko dalam peristiwa tragedi Kas-Ki-Yeh tahun 1858 yang kemudian membangkitkan semangat perlawanan Geronimo.

Selain Alope, istri ketiga Geronimo, Nana-Tha-Thtith juga terbunuh oleh pasukan Meksiko sata terjadi pasukan Meksiko kembali menyerang geronimo dan kelompoknya di tahun 1861. Setahun berkutnya pasukan Meksiko menangkap Chee Hash Kish dan menjualnya sebagai budak, nasib istri nomor tiga Geronimo ini kemudian tak diketahui lagi rimbanya.

Keberanian Geronimo sudah melegenda, saat ini kata Geronimo sering diucapkan oleh para penantang maut saat hendak melompat dari tempat yang tinggi, pengucapan ini meniru Geronimo yang meneriakan namanya sendiri saat melompati Medicine Bluff ke Medicine Creek bersama kudanya. Amerika sendiri mengakui kehebatan dan keberanian mantan musuh terbesarnya itu, nama Geronimo diabadikan sebagai motto dari resimen infanteri 501, sebuah batalion penerjun pertama Amerika saat perang dunia pertama.

Kisah tokoh pejuang legendaris ini pernah diangkat dalam sebuah film berjudul Geronimo : An American Legend, produksi tahun 1993 yang dibintangi oleh Wes Study sebagai Geronimo, Gene Hackman sebagai Jenderal Crook, Matt Dammon sebagai Britton Davis dan Jason Patric yang memerankan Charles Gatewood.

Seperti juga para tokoh yang berdiri melawan pemerintah Amerika, Geronimo kerap disimbolkan sebagai sosok jahat dan haus darah, seorang keji biadab yang tak berpendidikan. Nyatanya Geronimo dan suku Apache melawan karena merasa ditindas, tanah yang menjadi hak mereka selama ribuan tahun dirampas, dieksploitasi dan dirusak, banyak dari kaum Indian yang dibantai tanpa alasan jelas, terkadang hanya karena mereka dianggap “mengganggu pemandangan” para kaum kulit putih yang mengklaim dirinya “beradab”.

Kepala pasukan pemerintah federal di Arizona, Jenderal George Crook pernah bertanya pada Geronimo mengapa ia melarikan diri dari reservasi, Geronimo menjawab “kalian menempatkan kami di reservasi dan berjanji kami akan hidup tenang dan  damai selayaknya orang kulit putih, satu tahun kami menanam jagung, tahun berikutnya kami menanam gandum, tapi ketika kami hendak memanen, kalian mengirim tentara untuk membawa saya ke penjara dan bila menolak kalian akan membunuh saya, kalau kami dibiatkan hidup tenang maka kami juga akan membiarkan kalian hidup tenang, tapi kalian dan orang meksiko lebih memilih mengirim tentara untuk memburu kami”.

Amerika mengklaim bahwa Geronimo menyerah tanpa syarat sebagai seorang penjahat dan pemberontak, pada kenyataannya tentara Amerika tidak pernah mampu menundukan Geronimo di medan perang, penyerahan diri Geronimo dan pasukannya adalah berdasarkan negosiasi damai dari kedua belah pihak hingga menghasilkan kesepakatan, sebuah kesepakatan yang kemudian kembali dilanggar oleh pemerintah US.

Dalam negosiasi selama 3 hari itulah seorang fotografer bernama C.S Fly berhasil membujuk Geronimo untuk berpose dan diabadikan dalam sebuah foto yang kemudian menjadi gambaran paling ikonik dari pejuang kaum Indian itu.

foto geronimo

Perspektif kaum barat akan “kejahatan” Geronimo masih dipropagandakan hingga saat ini, sekitar 150 tahun sejak pertama kali Geronimo angkat senjata melawan ketidak adilan bagi sukunya, salah satunya ketika tentara Amerika memakai nama GERONIMO sebagai sandi operasi untuk penyergapan terhadap Osama Bin Laden yang kemudian dibunuh tanpa diadili dan jenazahnya dibuang di laut lepas tanpa menghormati statusnya sebagai seorang Muslim.

Sampai saat ini suku Indian yang notabene merupakan suku pribumi di Amerika masih kerap mendapatkan perlakuan rasialis dan dianggap warga negara “kelas dua” dari negara yang mengaku sebagai penjunjung tinggi nilai HAM, kesetaraan hak dan demokrasi.

Banyak kata untuk mendeskripsikan Geronimo, musuh – musuhnya mengakui Geronimo adalah seorang yang berwibawa, mampu bertindak agresif namun di sisi lain juga bisa bersifat lembut dan gentlle. Meski secara de jure tidak pernah menjabat sebagai kepala suku, namun Geronimo diakui sebagai pemimpin paling berkharisma dari suku Apache Indian, motivator, tabib, ahli strategi, pejuang, petarung, pemburu dan masih banyak lagi, namun diatas semuanya, Geronimo adalah seorang patriot yang sangat mencintai tanah air dan bangsanya.

2 pemikiran pada “Geronimo : The Last American Warrior

  1. Ping balik: Cortana, Aspri Cantik Dan Pintar Dari Microsoft – Cukup Tau Aja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s