Portugal King of Euro 2016, Breaking The Myth and The Record

Babak kedua perpanjangan waktu telah memasuki menit ke 5 , kedudukan masih tetap kosong – kosong, pendukung Prancis yang notabene merupakan tuan rumah sama tegangnya dengan supoter team Portugal, lawannya di final Piala Eropa 2016, namun tiba – tiba ketegangan berubah jadi suka cita untuk satu kubu dan duka cita mendalam untuk kubu lainnya, apa pasal?

Tak kurang dari 75.000 pasang mata yang menyaksikan langsung jalannya laga di Stade De France serta jutaan lainnya di seluruh dunia tersentak ketika pemain pengganti Éderzito António Macedo Lopes berlari meliuk setelah mendapat umpan dari lapangan tengah mengecoh seorang penjaganya sebelum kemudian melesatkan tembakan menyusur tanah dari jarak 25 meter ke sudut kanan gawang Prancis yang dikawal dengan gagah oleh Hugo Lloris.

Goaaaalll….!!!! Pendukung Portugal yang hadir di stadion yang bulan November 2015 kemarin menjadi lokasi teror bom tersebut sontak berteriak lantang saat si kulit bundar meluncur menembus jala gawang tanpa mampu di cegah oleh Lloris, kiper kawakan asal klub Totenham Hotspur itu sempat melakukan aksi terbang yang cukup spektakuler sebenarnya, namun bola melintas hanya sepersekian inci dari ujung kuku kapten team Prancis tersebut.

Jelas saja pemain dan pendukung Prancis terkejut, bukan Ronaldo, bukan Nani, tidak juga Quaresma yang masuk menggantikan Ronaldo di menit ke 24 yang mampu membuyarkan impian mereka memenangkan piala Eropa untuk ketiga kalinya dan menyamai torehan gelar Jerman serta Spanyol. Justru Eder, yang ironisnya bermain di salah satu klub liga Prancis, Lille, yang mencetak satu – satunya gol di laga puncak European Final 2016.

Eder sendiri bukanlah pilihan utama di timnas Portuguesse, Fernando Santos sang head coach dari team berjuluk Seleccao das Quinas itu sebenarnya memiliki barisan penyerang yang lebih diandalkan, selain 3 striker diatas, skuad Portugal masih memiliki  Helder Prostiga, Ivan Caveleiro serta Renato Sanchez, yang digantikannya di menit ke 79 pada final yang berlangsung tanggal 10 Juli 2016 waktu Paris itu, keputusan yang kini sangat disyukuri oleh Santos serta seluruh rakyat Portugal.

Walau demikian sang capitano sekaligus maskot timnas Portugal, Cristano Ronaldo ternyata telah memiliki firasat bila Eder akan menjadi bintang pada perhelatan piala Eropa tahun ini, jauh sebelum timnya masuk final, striker Real Madrid tersebut pernah menyampaikan bila satu saat kelak Eder akan menjadi penentu kemenangan teamnya, entah Ronaldo memiliki indera keenam atau sekedar sugesti untuk membangkitkan semangat anak buahnya yang jelas hal itu menjadi kenyataan.

Keberhasilan CR7 dkk memenangkan piala Eropa 2016 ini merupakan pertama kali sekaligus gelar tertinggi yang pernah diraih sejak Federação Portuguesa de Futebol atau Federasi Sepakbola Portugal berdiri pada tahun 1914 silam, sebelumnya Portugal, yang kala itu diperkuat Deco, Conceciao, Luis Figo dan Vitor Baia sempat menembus babak final kala piala Eropa berlangsung di negaranya tahun 2004 lalu namun gagal meraih juara setelah dikandaskan tim karbitan Yunani 1- 0.

Selain itu kemenangan Portugal atas Prancis dianggap telah mematahkan sejumlah mitos piala Eropa maupun mitos lain yang ada di dunia sepakbola diantaranya adalah,

Siklus 16 tahunan, 16 tahun yang lalu tim Ayam Jantan memenangi piala Eropa untuk kedua kalinya saat hajatan 4 tahunan itu digelar di dua negara yakni Belanda dan Belgia, 16 tahun sebelumnya Michel Platini dan kolega membawa Les Bleus menjuarai piala Eropa untuk pertama kalinya sekaligus gelar tertinggi pertama bagi France.

Bila berpegangan pada siklus tersebut seharusnya Prancis menjadi juara di gelaran piala Eropa 2016 ini, terlebih lagi hajatan akbar tersebut berlangsung di negara mereka sendiri dimana seperti diketahui piala Eropa 84 diselenggarakan di negara ini dan Prancis pun memenangkan Piala Dunia atau FIFA World Cup pertama kalinya pun saat gelaran tersebut berlangsung di kandang mereka pada tahun 1998.

bintang timnas prancis dari juventus

Kedua adalah mitos Prancis – Juventus, Michel Platini sang jenderal Prancis sekaligus top scorer di piala Eropa 84 dengan 9 gol serta Zinedine Zidane sang superstar Les Bleus di Piala Dunia 98 dan pencetak 2 dari 3 gol prancis atas Brazil di partai final berasal dari klub yang sama, Juventus, kebetulan atau tidak, di piala Eropa 2016 ini Prancis memiliki pemain andalan yang juga berasal dari klub berjuluk La Vecchia Signora atau si Nyonya Besar itu yakni Paul Labile Pogba, namun ternyata sinar pemain berjuluk “Il Polpo Paul” itu tidak secemerlang kedua seniornya tersebut.

Kegagalan Prancis menjuarai piala Eropa tahun ini membuat sang pelatih Didier Deschamps gagal menyamai rekor yang dibukukan oleh Berti Vogts yang mampu menjuarai piala Eropa kala menjadi pemain dan pelatih, bahkan Deschamps akan jauh lebih hebat dari Vogts, pelatih yang membawa Jerman juara piala Eropa 96 di Inggris itu hanya merupakan pemain cadangan yang bahkan tidak diturunkan dalam satu laga pun saat Jerman (Barat) memenangi piala Eropa 1972 di Belgia.

Sementara Deschamps, yang kala itu juga bermain untuk Juventus, merupakan punggawa inti bahkan menjabat sebagai kapten Les Blues di piala Eropa 2000. Cerita Deschamps ini sedikit mirip dengan Dino Zoff dimana kiper legendaris itu membawa Italia menjuarai UEFA European Cup 1968 sebagai pemain, hanya sayangnya Zoff gagal sebagai pelatih saat tim Italia yang diasuhnya dikandaskan oleh Deschamps dkk dengan skor 2-1 pada final Piala Eropa 2000.

Prancis menjadi tim tersubur dalam piala Eropa 2016 dengan torehan 13 gol, jumlah gol yang sama juga mereka bukukan pada saat piala Eropa 16 tahun yang lalu di Belanda – Belgia, hanya bedanya kala itu mereka keluar sebagai juara.

6 dari 13 gol Prancis disumbangkan oleh Antoine Griezmann, striker Atletico Madrid itu berhak atas Sepatu Emas lambang Top Skorer UEFA Euro Cup 2016 dan juga dinobatkan sebagai pemain terbaik pada gelaran tersebut.

Sedangkan pemain terbaik pada pertandingan final diraih oleh Képler Laveran Lima Ferreira alias Pepe. Komandan satgas lini belakang Portugal itu memang bermain cemerlang mengatur skema pertahanan timnya dari gelombang serangan Prancis yang datang bertubi – tubi, statistik mencatat bek Real Madrid tersebut melakukan 12 kali sapu bersih bola dan 3 kali memblok tendangan lawan.

Selain Pepe, Portugal juga berhasil memecahkan rekor pemain termuda yang pernah memenangi Piala Eropa atas nama Renato Sanchez. Pemain yang digantikan oleh Eder pada pertandingan final itu baru berusia 18 tahun dan 328 hari saat mengangkat piala Eropa 2016 bersama rekan – rekannya, striker yang musim depan bergabung bersama Bayern Muenchen itu memecahkan rekor Pietro Anastasi yang membawa Italia juara piala Eropa 1968 dalam usia 20 tahun dan 63 hari.

Sanchez juga berhasil memecahkan rekor senior sekaligus mentornya di timnas Portugal yakni Cristiano Ronaldo sebagai pemain termuda di final piala Eropa, rekor tersebut bertahan selama 12 tahun sejak CR7 bermain di final European Cup 2004 melawan Yunani dalam usia 19 tahun dan 150 hari.

Mantan pemain Benfica itu juga menjadi pencetak gol termuda ketiga di piala Eropa di bawah striker Swiss, Johan Vonlanthen dan bad boy Inggris Wayne Rooney yang mengukir rekor tersebut pada piala Eropa 2004. Gol yang membuat Sanchez masuk dalam daftar tersebut dibuat pada babak perempat final melawan Polandia saat usianya baru genap 18 tahun 317 hari

Gol yang dibuat pada menit 33 tersebut sangat penting artinya karena menjadi gol penyeimbang setelah Portugal tertinggal lebih dahulu oleh sontekan Robert Lewandoski ketika pertandingan baru berjalan 2 menit, seperti diketahui Portugal akhirnya mengalahkan Polandia setelah melalui drama tos tosan dengan skor  5-4.

Bukan hanya pemain termuda, di skuad Portugal juga berisi pemain tertua yang pernah menjuarai piala Eropa yakni Ricaldo Carvalho. Bek yang kini bermain di Ligue 1 France bersama AS Monaco itu tepat berumur 38 tahun dan 53 hari pada tanggal 10 Juli 2016 kemarin.

Ketimpangan antara Prancis Portugal sudah terlihat mulai dari babak penyisihan grup, Prancis merupakan jawara group A yang tak terkalahkan dalam 3 pertandingan dengan raihan 7 poin hasil 2 kali menang dan sekali imbang, sementara Portugal justru nyaris tidak lolos ke babak berikutnya karena hanya menempati posisi ketiga di grup F dibawah Hungary dan Iceland, beruntung mereka termasuk salah satu dari 4 tim peringkat ketiga terbaik bersama Slovakia, Republik Irlandia dan Irlandia Utara.

Sepanjang keikutsertaan mereka di piala Eropa, Portugal telah melakoni 34 kali laga, paling banyak diantara seluruh negara anggota UEFA lainnya namun pertandingan melawan Prancis pada 10 Juli 2016 waktu setempat atau 11 Juli WIB tentu menjadi yang paling dikenang karena laga itulah yang membuat mereka mengangkat Trophy Henri Delaunay simbol juara piala Eropa.

Dengan statusnya sebagai jawara Piala Eropa 2016 maka secara otomatis Portugal lolos sebagai peserta FIFA Confederation Cup 2017 yaitu sebuah turnamen pemanasan sebelum Piala Dunia 2018 yang akan berlangsung di Rusia mulai tanggal 17 Juni – 2 Juli 2017 mendatang.

Selain Portugal yang mewakili UEFA, peserta piala Konfederasi 2017 lainnya adalah Rusia yang merupakan tuan rumah Piala Dunia Rusia 2018, sang juara dunia 2014, Jerman, Mexico sang pemenang Piala Emas Concacaf 2015, Chili juara piala Amerika 2015, Australia dengan status AFC Cup winner 2015, New Zealand sang jawara zona Oceania 2016 dan satu jatah lagi bagi pemenang piala Afrika 2017.

Dan itulah akhirnya, konsistensi dan perjuangan tanpa henti dari punggawa tim Portugal akhirnya berhasil membawa team yang sebenarnya tampil “biasa – biasa saja” itu keluar sebagai juara Piala Eropa 2016. Hadirnya Trophy Henri Delaunay untuk pertama kalinya ke negeri Marcopolo tersebut tentu di sambut gegap gempita oleh seluruh rakyat Portugal.

Bukan hanya kebanggaan atau prestige, piala Eropa juga diyakini akan membawa dampak finansial bagi Portugal, harian ekonomi terkemuka di sana, Diario Economico, kemenangan Portugal atas Prancis pada final piala Eropa akan memicu perputaran ekonomi tak kurang dari 609 juta Euro melalui sektor Federasi, publikasi, perhotelan, layanan kebersihan, resto, bar dan café, televisi, brand olahraga hingga agen travel.

Diantara euforia menyambut kemenangan Portugal ada satu orang yang terus memberikan dukungan tanpa henti pada tim favoritnya tersebut khususunya pada sang kapten team yaitu seorang pemuda bernama Martunis. Sobat CTA masih ingat Martunis? Ya inilah bocah asal Desa Tibang, Kuala Syiah, Banda Aceh yang terapung selama 21 hari saat badai Tsunami melanda Aceh tahun 2004 silam.

Saat ditemukan, Martunis yang kala itu berusia 8 tahun mengenakan kaus timnas Portugal bernomor punggung 17 milik Ronaldo saat itu. Kisahnya yang diliput televisi Inggris menyentuh hati mega bintang Portugal tersebut hingga akhirnya menjadikan sang bocah menjadi anak angkatnya.

Martunis pun menjadi fans nomor satu ayah angkatnya tersebut dan selalu memberikan dukungan termasuk ketika CR7 dkk berlaga di piala Eropa, melalui akun Instagramnya martunis_ronaldo dengan mengunggah sejumlah foto yang membangkitkan semangat seperti di bawah ini.

profil instagram martunis rondaldo

instagram martunis euro 2016 1

Get well soon,Forca Portugal 😭🇵🇹👍🏼

Kesedihan Martunis saat Ronaldo cedera hingga harus ditarik keluar pada menit ke 23 di ekspresikannya melalui foto diatas dengan doa semoga cepat sembuh bagi sang ayah angkat tercinta.

instagram martunis euro 2016 2

Ekspresi kebanggan Martunis diungkapkan dalam caption Congratulations for the king of Europe  atau “Selamat telah menjadi Raja Eropa” dengan memberi mention pada @selecoesportugal.

Foto yang diunggah sebelum pertandingan final ini diberi caption Insha Allah will be Champion For tonight,Forca Portugal.vamos.

 Selain Martunis, puluhan juta warga Portugal juga larut dalam kegembiraan, beberapa diantaranya ditangkap melalui lensa kamera.

fans portugal euro 2016 2-1

supporter Portugal tumpah ruah di lapangan Eifel Prancis

suporter portugal and france

kalah menang itu biasa, sportivitas dan persaudaraan harus tetap dijaga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s